Berita

UMKM Menjadi Solusi Persoalan Ketenagakerjaan dan Permintaan (Bagian terakhir dari dua tulisan)

| Selasa, 11 Agustus 2020 19:20

 

Oleh: Sulis Usdoko*

DALAM perjalanannya, sudah banyak lembaga yang melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan daya saing usaha menengah, kecil, dan mikro (UMKM). Dengan kondisi UMKM yang belum mampu meningkatkan kontribusi terhadap PDB, walaupun agregat penyerapan tenaga kerjanya sangat besar, diperlukan terobosan baru. Terobosan ini mengacu pada metode pelibatan UMKM pada tiga hal, yakni rational thinking, emotional feeling, dan motivation factor serta mengombinasikannya dengan menempatkan UMKM sebagai subjek, bukan objek.

Emotional Feeling

Pilar selanjutnya dalam pemberdayaan UMKM adalah emotional feeling atau menempatkan diri mengikuti kebiasaan di wilayah setempat. Secara alamiah, masyarakat di mana pun, termasuk para pelaku UMKM, akan lebih mudah menerima tamu yang memegang etika dan mengikuti kebiasaan atau budaya setempat.

Hal ini juga terkonfirmasi di wilayah-wilayah binaan PT Jamkrindo. Di Ciletuh Palabuhanratu Unesco Global Geopark (CPUGGp/Geopark Ciletuh), kami masuk ke sana tanpa menawarkan atau menjanjikan sesuatu sama sekali. Bahkan, kami masuk ke pemberdayaan UMKM lewat ’jalan samping’, tidak melalui pintu depan. PT Jamkrindo masuk ke Geopark Ciletuh melalui kampanye antisampah plastik, yang di permukaan tampak tidak berkaitan dengan pemberdayaan UMKM. Namun, dari situlah justru pendekatan ini powerful karena Jamkrindo masuk ke pokok persoalan yang dihadapi oleh kawasan Geopark Ciletuh, yakni kebutuhan untuk memperbaiki ekosistem dan pengelolaan sampah plastik serta kebutuhan untuk meningkatkan perekonomian.

Kami juga mengombinasikan pilar kedua, yakni emotional feeling dengan menggandeng tokoh masyarakat dan tokoh pemerintahan yang mereka percaya. Kultur masyarakat setempat yang menempatkan rasa hormat kepada tokoh masyarakat dan tokoh pemerintah ini membuka jalan untuk merumuskan strategi pemberdayaan bersama-bersama. Apalagi, gayung juga disambut oleh Pemerintah Kabupaten Sukabumi yang memiliki komitmen kuat untuk menggerakkan perekonomian di kawasan Geopark Ciletuh. Di Sukabumi jugalah, pertama kalinya PT Jamkrindo melakukan pemberdayaan melalui kesepakatan bersama dengan pemerintah daerah, khususnya Pemerintah Kabupaten Sukabumi.

Pendekatan melalui tokoh agama juga terbukti powerful di Larantuka, di mana strategi pemberdayaan dirumuskan bersama dengan tokoh agama dan umat. Demikian juga di Kintamani, Bali, strategi dirumuskan bersama dengan tokoh masyarakat dan petani kopi setempat untuk mencari solusi budi daya kopi Bali.

Motivation Factor

Pilar ketiga pelibatan UMKM dalam pemberdayaan mereka adalah motivaton factor atau menyisipkan unsur motivasi dalam setiap kegiatan. Di Ciletuh, unsur motivasi itu diimplementasikan dalam gagasan bahwa jika kawasan Geopark bersih dari sampah plastik, kawasan itu akan makin banyak didatangi wisatawan. Dampak makin meningkatnya kunjungan wisatawan tentu langsung pada perekonomian masyarakat, yakni meningkatkan tingkat keterisian homestay, bertambahnya usaha kuliner, dan terbukanya lapangan usaha baru seperti pemandu wisata.

Di Larantuka, faktor motivasi ini juga terbukti mampu mendongkrak kepercayaan diri pelaku usaha bahwa mereka bisa keluar dari kubangan kemiskinan atau jerat rentenir dengan daya upaya mereka sendiri, bukan karena ditolong oleh pihak lain. Dulu, menyekolahkan anak-anak hingga perguruan tinggi hanyalah mimpi, tetapi kini mimpi itu terwujud. Dan, komoditas yang mewujudkan mimpi itu menjadi kenyataan tetaplah sama, yaitu mete yang sudah mereka budi dayakan sejak beberapa generasi sebelumnya.

Demikian juga di Bali. Selama ini para petani hanya mengirimkan biji kopi kepada pedagang sehingga harga jualnya relatif murah. Melalui pendekatan motivasi dan pelatihan, perlahan-lahan harga jual kopi meningkat. Bahkan, ketika dibukakan fakta bahwa biji kopi luar negeri bisa laku hingga Rp1 juta per kilogram, mereka juga percaya bahwa suatu saat harga jual biji kopi Bali bisa setara.

Konsep K3

Selain ketiga pilar melibatkan UMKM dalam strategi pemberdayaan, kami juga menerapkan konsep K3, yaitu komitmen, kapasitas, dan konsistensi. Konsep K3 ini mirip dengan konstruksi sebuah rumah. Komitmen merupakan fondasi, sementara kapasitas merupakan tiang dan tembok, Adapun konsistensi merupakan atap yang melindungi struktur rumah dan penghuni.

Dalam pemberdayaan UMKM, filosofi struktur rumah itu juga hampir sama. Yang kami jadikan fondasi dan pertama-tama kami sentuh adalah komitmen bersama para UMKM bahwa mereka ingin maju. Tanpa komitmen itu, strategi dan penjelasan berbusa-busa hampir pasti hanya akan menjadi omong kosong karena subjek tidak memiliki fondasi untuk membangun struktur di atasnya yang lebih kuat.

Kami beruntung bahwa di ketiga lokasi pemberdayaan, kami mendapatkan komitmen yang sangat kuat. Bahkan, di Sukabumi, kami sangat mengapresiasi Pemerintah Kabupaten Sukabumi yang memiliki komitmen untuk serius dalam menjalankan program pemberdayaan itu. Setelah meletakkan fondasi komitmen yang kuat, struktur di atasnya yakni kapasitas menjadi lebih mudah dibangun. Peningkatan kapasitas itu bisa bermacam bentuk, bisa melalui pelatihan, berbagi pengalaman, dan perbaikan mutu produk yang dihasilkan oleh UMKM.

Namun, dua struktur fondasi dan tiang itu harus dilengkapi oleh atap yang secara filosofis diimplementasikan sebagai konsistensi dalam melaksanakan program. Dari ketiga struktur dalam konsep K3, konsistensi memang merupakan yang paling sulit karena menuntut daya tahan yang tinggi selama proses berlangsung. Tanpa konsistensi, hampir pasti semua perencanaan dan strategi implementasi akan gagal.

Nilai Tambah

Periode kritis selalu meninggalkan pembelajaran baik untuk memperkuat struktur pada periode berikutnya. Pemberdayaan UMKM dan periode kritis akibat Covid-19 secara sahih telah menunjukkan bahwa kita perlu menjaga tumbuhnya local leader. Kegiatan pemberdayaan oleh PT Jamkrindo di Larantuka hanya bisa sukses karena konsistensi pemuka agama dalam mendampingi para petani mete. Demikian juga kampanye antisampah plastik di Geopark Ciletuh yang kini sudah terdiversifikasi kegiatannya pada pemberdayaan ekonomi di Asosiasi Homestay dan sektor produksi makanan olahan oleh para eks buruh migran (TKI/TKW) yang juga bisa berjalan karena ada tokoh masyarakat yang menjadi kepanjangan tangan tanpa kepentingan. Satu-satunya kepentingan para local leader itu adalah membuat fondasi yang kuat bagi perekonomian masyarakat.

Tak berlebihan kiranya kalau kemudian Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menyambut positif dan mengapresiasi terus berkurangnya jumlah buruh migran Indonesia di luar negeri karena makin meningkatnya kegiatan ekonomi di kawasan Geopark Ciletuh. Peran para local leader itulah yang saat ini sangat diperlukan untuk menjaga ritme perekonomian yang perlahan-lahan bergeliat saat pandemi Covid-19.

Dari pembangunan perekonomian nasional berbasis UMKM, kita juga bisa melihat ada banyak nilai tambah. Dari sisi sosial, geliat aktivitas UMKM selalu memberi harapan bagi para pelakunya untuk hidup lebih baik dan perlahan-lahan naik kelas. Contoh nyata datang dari para petani mete Larantuka yang semula berkalang kemiskinan. Demikian juga para buruh migran asal Geopark Ciletuh yang semula bertahun-tahun mengorbankan waktu berpisah dengan keluarga untuk bekerja di luar negeri, juga dengan para petani kopi di Kintamani yang seumur-umur menjual biji kopi dengan harga murah.

Kegiatan ekonomi UMKM, besar atau kecil volumenya, turut berkontribusi untuk menekan kesenjangan pendapatan yang menjadi duri dalam perekonomian kita. Bahkan, tanpa disadari, UMKM juga menjadi laboratorium inovasi bagi generasi muda. Sejak pemerintah memperkuat perekonomian desa, generasi muda menjadi motor perekonomian lokal melalui usaha kreatif dan mengoptimalkan potensi daerah yang sebelumnya tidak tersentuh. Proses kreatif para pelaku UMKM di banyak daerah juga berhasil menumbuhkembangkan ekosistem UMKM, terutama untuk memenuhi permintaan dan penawaran.

*Penulis adalah Pengiat Enterpreneurship Pemula dan SME Expert, Direktur PT Jamkrindo.