Berita

Menkop dan UKM Data Ulang Debitor KUR Korban Merapi

Berita | Kamis, 02 Desember 2010 09:45

Kementerian Koperasi dan UKM terus menggencarkan pendataan Kredit Usaha  Rakyat (KUR) bermasalah di Merapi. Ini disinkronisasi dengan pendataan  dari tim Menko Perekonomian yang sebelumnya mengestimasi kerugian  mencapai Rp 60 miliar.

Deputi Kemenkop Bidang Restrukturisasi  Usaha Chairul Djamhari, menyatakan, pendataan yang dilakukan Kemenkop  dan UKM bersifat melengkapi data yang sudah diberikan oleh Menko  Perekonomian.<!--more-->”Jadi bukan mendata ulang, tapi melengkapi. Karena  data ini sudah kami kumpulkan dari berbagai sumber, seperti perbankan di  daerah sana,” tegas dia.

Untuk itu Menkop sudah menugaskan  Deputi Bidang Pengkajian untuk mempercepat pendataan di  Kabupaten-Kabupaten di sekitar kawasan Merapi.

”Hasil pendataan itu yang akan menjadi titik tolak untuk berbagai kebijakan yang akan diterapkan nanti,” kata Chairul.

Sebelumnya,  Menkop dan UKM  mengunjungi dusun Glagaharjo, Cangkringan, Yogyakarta  yang hancur terkena erupsi Gunung Merapi. Di dusun ini, Koperasi Ternak  Saran Makmur mengalami kerugian besar, di mana lebih 1.200 sapi perah  milik anggotanya mati terkena awan panas.

"Saya sudah lihat  koperasi peternakan yang memiliki 1.500 sapi perah, di mana 1.200 di  antaranya mati. Kita akan bangun kembali infrastrukturnya, bangunan  koperasi yang rusak, memberi bantuan ternak, serta suntikan modal (baru)  lewat KUR sehingga koperasinya hidup lagi," kata Syarif di Yogyakarta,  akhir pekan lalu.

Di tempat terpisah, Menteri  Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa mengemukakan, potensi kerugian KUR  akibat bencana Merapi mencapai Rp 60,062 miliar.

Menurut  keterangan Menko Hatta Rajasa, pemerintah akan menanggung potensi  kerugian tersebut sebesar 70 persen. Tapi dengan syarat, kerugian  tersebut sudah masuk kategori peringkat kolektibilitas 3-4. Pendataannya  saat ini masih terus dilangsungkan.

Dari rincian yang dipaparkan  Hatta akhir pekan lalu itu., berdasarkan urutan kerugian terbesar yakni  BRI mendera kerugian sebesar Rp 37,776 miliar, PT Bank Syariah Mandiri  sebesar Rp 16,165 miliar, PT Bank Negara Indonesia Tbk sebesar Rp 2,996  miliar, PT Bank Mandiri Tbk sebesar Rp1,650 miliar, PT Bank Bukopin Tbk  sebesar Rp 750 juta, BPD Yogyakarta sebesar Rp 605 juta, dan PT Bank  Tabungan Negara Tbk sebesar Rp120 juta. <span style="font-weight: bold;">[arp]</span>

sumber :http://www.rakyatmerdeka.co.id/news.php?id=10215