Berita

KUR Pacu Pertumbuhan Kredit Perbankan

Berita | Minggu, 21 Agustus 2016 08:02

Perum Jamkrindo mewaspadai lonjakan klaim, seiring dengan meningkatkan pertumbuhan kredit KUR di Perbankan

Jakarta | Pertumbuhan Kredit Usaha Rakyat (KUR) terus meningkat. Tercatat per 2 Juni 2016, penyaluran (KUR) telah mencapai Rp.46,73 triliun. Jumlah tersebut setara 46,7% dari target akhir tahun yang sebesar Rp.100 triliun.

Menurut data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Kemenkop UKM),  rincian dari penyaluran KUR tersebut adalah KUR Mikro sudah mencapai 42,82% atau Rp.30,4 triliun. Lalu, KUR Ritel tercatat sudah mencapai 63,91% atau Rp.16,29 triliun, dan KUR TKI baru mencapai 1% atau Rp.34,9 miliar.

Deputi Bidang Pembiayaan Kementerian Koperasi dan UKM Braman Setyo mengatakan, dengan adanya kredit KUR diharapkan bisa membantu target pertumbuhan kredit perbankan sampai akhir tahun ini. Sampai April 2016, pertumbuhan kredit perbankan baru mencapai 7,7% dari target akhir tahun 2016 sebesar 12%-14%. “Diharapkan KUR bisa membantu meningkatkan pertumbuhan kredit perbankan,” ujar Braman di Jakarta Senin (07/06/2016)

Sebagai informasi, target  penyaluran KUR sampai akhir tahun sebesar Rp.100 – Rp.120  triliun setara dengan 13,5% dari total kredit UMKM industri perbankan pada tahun 2016.

Dari tujuh bank yang saat ini sudah menyalurkan KUR, tercatat BPD NTT sudah melampaui target yaitu Rp.9 miliar. Lalu, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk tercatat merupakan bank penyalur KUR cukup agresif dengan realisasi sampai 3 Juni 2016 sebesar 51,95% atau Rp.35,06 triliun.

Menurut Muhammad Irfan, Direktur UMKM BRI, meskipun kontribusi KUR belum sampai 10% dari target, namun diharapkan KUR bisa membantu kenaikan kredit UMKM industri. “Memang jika dibandingkan dengan total kredit perbankan harus diakui kontrbusinya belum nendang,” ujar Irfan,

Sebagai informasi, BRI mendapatkan jatah dari pemerintah untuk menyalurkan KUR sebesar Rp.67,5 triliun atau sebesar 12,02% dari total kredit BRI.

Sementara Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM Agus Muharram mengatakan pada dasarnya pencapaian angka serapan KUR ke masyarakat/debitur sangat baik karena sebelum pertengahan tahun sudah bisa mencapai 40%. “Tahun lalu, pada bulan yang sama, serapan KUR tidak sampai segini," ujarnya di Jakarta Juni.

Menurut dia, pencapaian tersebut didorong oleh pelonggaran aturan penyaluran. Kelonggaran itu adalah suku bunga KUR diturunkan dari 12% menjadi 9%  dan penghapusan agunan. "Rencananya, tahun depan, bunga KUR akan turun lagi menjadi 7%," kata Agus.

"Banyak pelaku usaha yang ingin memanfaatkan program pemerintah ini. Sektor yang dibiayai juga berkembang ke sektor lain. Sekarang sudah ada KUR khusus TKI dan UKM yang berorientasi ekspor," tambah Agus.

 

 Jamkrindo Waspada

Di sisi lain, penggenjotan penyaluran KUR pada perbankan juga memicu tren kenaikan rasio kredit macet. Hal ini membuat perusahaan umum Jaminan Kredit Indonesia (Jamkrindo), sebagai salah satu penjamin KUR UMKM terus waspada. Maklum, klaim penjaminan kredit mungkin bakal meningkat seiring dengan proyeksi kenaikan kredit macet di perbankan.

Rusdonodbanu, Direktur Investasi dan Keuangan Jamkrindo bilang bahwa ada dua segmen kredit yang dapat menaikkan klaim Jamkrindo, yakni kredit usaha menengah kecil mikro (UMKM) dan kredit usaha rakyat (KUR).

Salah satu faktor yang mendorong kenaikan klaim berasal dari sejumlah bank yang kini tidak lagi berstatus sebagai penyalur KUR. Sehingga, kredit macet yang tidak tertagih diklaim ke Jamkrindo.

Selain itu, rasio kredit macet bank untuk kredit korporasi komersial diperkirakan meningkat tahun ini. Inilah yang membuat klaim Jamkrindo di tahun ini bisa menembus Rp.1,25 triliun atau naik 36,3% dari tahun lalu Rp.917 miliar.

Hingga Mei 2016, Rusdonodbanu menyebut, klaim Jamkrindo masih flat. "Per Mei, klaim kami Rp.324,1 miliar lebih rendah dari Mei tahun lalu Rp.328,3 miliar," tuturnya. Beban klaim mayoritas berasal dari KUR sebesar 74%.  Sisanya 26% dari penjaminan non KUR.  (berbagai sumber)