Berita

Mengakomodasi Aksesibilitas, Jamkrindo Pacu UMKM Naik Kelas

Berita | Senin, 15 Juli 2019 08:20

PAGI itu, Fitria (29) warga Desa Ajibarang Kulon, Ajibarang, Banyumas terlihat sibuk menyusun laporan keuangan sederhana. Laporan keuangan itu sebagai lampiran mengajukan kredit produktif dari perbankan.

Laporan yang disusun pun menggunakan tulisan tangan yang tercatat dalam buku besar. Ia juga menyiapkan cetakan ringkasan transaksi dari dana transfer masuk dan keluar yang tercatat dalam buku rekening bank.

 “Saya baru mengakses kredit di bank, jadi harus menyiapkan persyaratannya agar bisa cair,” kata pelaku usaha bisnis online itu.

Ia mengakses pinjaman untuk meningkatkan kapasitas usahanya. Apalagi, pada momentum hari besar keagamaan, seperti idulfitri menjadi berkah bagi Fitria. Order pakaian meningkat hingga dua kali lipat daripada hari normal. 

Tentu, peningkatan order harus diikuti dengan penambahan modal. Perbankan menjadi alternatif untuk mengurai persoalan permodalan. Modal ini untuk menambah persediaan barang dagangan dan melengkapi varian model pakaian terkini yang akan ditawarkan konsumen. 

“Pada kondisi ini, modal menjadi sangat penting untuk menjalankan roda pemasaran barang dagangan,” ujarnya.

Beruntung akses permodalan sekarang ini lebih mudah sepanjang persyaratannya lengkap. Keperpihakan pemerintah terhadap pelaku UMKM melalui program kredit murah yang dijaminkan lewat Jamkrindo seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) memberi angin segar. Program ini mendapat respons positif dari pelaku usaha, karena bagi mereka yang belum bankeble pun dapat mengakses kredit produktif.

Pemilik usaha sepatu kulit di Purwokerto, Bandi Setiawan beberapa waktu lalu juga mengatakan, seiring dengan meningkatnya omzet penjualan sepatu kulit, meminjam modal usaha dari bank menjadi pilian tepat. Ia terpacu untuk terus mengembangkan usahanya yang dikelola sejak 20 Maret 2008.

Ia kemudian meminjam modal ke bank Rp 2 miliar. Nominal itu digunakan membeli tambahan unit peralatan pendukung produksi, bahan baku serta merenovasi tempat produksi. 

“Saya sudah menjalin hubungan dengan Bank Jateng sudah lama. Pinjam di Bank Jateng pas sesuai dengan kebutuhan. Tidak kurang dan tidak lebih. Saya sangat terbantu sekali dengan Bank Jateng,” ujarnya. 

Suntikan dana segar ini mampu menggerakkan roda usaha produksi sepatu dan sandal kulit milik Bandi. Saat ini, ia telah memiliki pekerja bagian produksi sekitar 40 orang, sedangkan tenaga pemasaran sekitar 30 orang. Kapasitas produksi sebulan rata-rata 5000 pasang. Harga per pasang sepatu dan sandal kulit mulai Rp 210 ribu hingga Rp 600 ribu.

Jenis sepatu yang diproduksi, diantaranya sepatu pantofel, kasual dan offroad, sedangkan sandal kulit macamnya banyak. Ada sekitar seratus lebih model yang telah diproduksi. Pemasaran produk di wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah dan sebagian wilayah Jawa Barat. 

Memotivasi Pelaku Usaha

Data di Bank Indonesia Purwokerto mencatat, penyaluran KUR di wilayah eks Karesindenan Banyumas sampai Januari 2016 yang disalurkan oleh delapan bank yang ditunjuk pemerintah mencapai Rp 401,11 miliar dengan jumlah rekening 53.019.

 

Sementara pada posisi Desember 2015, penyaluran KUR mencapai Rp 440,40 miliar dengan jumlah rekening 57.135 dan pada Desember 2014 KUR yang disalurkan mencapai Rp 1.081,59 miliar dengan jumlah rekening 122.170.

Plafon KUR pada posisi Desember 2014 mencapai Rp 1.332,28 miliar, Desember 2015 sebesar Rp 686,31 miliar dan plafon KUR pada Januari 2016 sebesar Rp 623,08 miliar.

Konsultan Bidang Pembiayaan PLUT KUMKM Jateng, Supratigno, sekarang banyak sekali akses permodalan yang dapat dimanfaatkan pelaku usaha, seperti bank melalui KUR, kemitraan dengan nonbank, program pinjaman dana bergulir dari pemerintah daerah dengan bunga murah, serta dana hibah dari program pemerintah pusat.  

Karena itu, yang perlu ditanamkan yaitu bagaimana memotivasi pelaku usaha, seperti memfasilitasi pelatihan penyusunan laporan keuangan. Hal ini menjadi penting karena sebagian pelaku usaha masih mencampurkan antara uang usaha dengan rumah tangga. 

“Kadang mereka tidak mau menulis laporan keuangan. Kami sering memberikan pelatihan untuk mengajari pelaku usaha disiplin keuangan,” katanya. 

Kedisiplinan dalam menyusun laporan keuangan memberi dampak positif bagi perkembangan usaha. Mereka dapat merinci pemasukan dan pengeluaran aliran dana usaha.

“Kalau mereka disiplin akan mempermudah mengakses permodalan di bank. Itu juga sebenarnya merupakan kewajiban pelaku usaha,” katanya.

Karena itu, sebagai perusahaan penjaminan terbesar, Perum Jamkrindo memiliki peran penting dalam mendukung pengembangan UMKM, khususnya di daerah. Wakil Ketua Kadin Banyumas, M Arsad Dalimunte mengemukakan, Perum Jamrindo perlu proaktif memotivasi pelaku UMKM karena perannya sangat strategis.

Selain itu, Perum Jamkrindo diharapkan terus memberikan pembinaan kepada para pelaku usaha mikro dan kecil di daerah yang masih belum bankable

, serta pembinaan manajemen usaha kepada usaha mikro karena sebagian dari mereka belum memiliki perencanaan keuangan.

Arsad menyarankan adanya terobosan melalui metode evolusi yang menekankan pada keterbangunan pelaku usaha secara terintegratif. Metode tersebut meliputi, peningkatan kuantitas pendidikan dan pelatihan yang berorientasi pada pembentukan pola pikir, keterbangunan dan keterjagaan spirit kewirausahaan serta keterbangunan mental tangguh dan mandiri.

Berinovasi

Sejalan dengan itu, Perum jamkrindo terus berinovasi untuk memenuhi kebutuhan pelaku usaha guna meningkatkan aksesibilitas finansial UMKM dan koperasi. Inovasi yang dilakukan dengan menyediakan platform marketplace guarantee (MPG) bernama aplikasi “UMKM Layak” yang dapat diakses melalui laman umkmlayak.co.id.

UMKM Layak merupakan sebuah platform digital yang dibuat dengan tujuan mengakomodasi kebutuhan UMKM, yaitu kebutuhan untuk mengakses pembiayaan dan kebutuhan untuk mengikuti pelatihan-pelatihan, serta menjembatani antara UMKM yang memerlukan pembiayaan dengan lembaga keuangan yang menyalurkan pembiayaan UMKM.

Dalam apliksi itu ada empat langkah mudah yang dilakukan untuk memperoleh layanan UMKM Layak, pertama mendaftarkan usaha milik UMKM, melengkapi data diri dan usaha, kemudian memilih layanan UMKM Layak yang sesuai, terakhir nikmati layanan UMKM Layak.

Sampai saat ini, sudah ada 259 UMKM yang mendaftar dan dibina melalui layanan UMKM Layak. Jumlah ini bisa terus dioptimalkan karena UMKM di Indonesia jumlahnya banyak.

Direktur Utama Perum Jamkrindo Randi Anto dalam siaran presnya yang dikutip dalam laman http://www.jamkrindo.co.id, mengatakan, Perum Jamkrindo berperan menilai kelayakan usaha UMKM melalui sistem pemeringkatan yang mengintegrasikan metodologi Jamkrindo Scoring (JScore), psikometrik, LPIP (Lembaga Pengelola Informasi Perkreditan) dan data NIK.

Aplikasi “UMKM Layak” dapat mempermudah UMKM dalam mengakses permodalan dari lembaga keuangan mitra Jamkrindo. Perum Jamkrindo bertindak sebagai pemasok data UMKM potensial yang layak kredit dan layak jamin kepada mitra penerima jaminan yaitu lembaga keuangan, baik bank maupun nonbank. 

Melalui inovasi ini, Perum Jamkrindo ikut memacu UMKM naik kelas dengan memfasilitasi aksesibilitas finansial. UMKM menjadi perhatian karena memiliki peran penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. *

 

Penulis: Puji Purwanto

Pemenang Juara III

Lomba Jurnalistik Perum Jamkrindo 2019

Artikel jurnalistik ini telah terbit di SuaraMerdeka.com pada laman Laporan Khusus, Sabtu 22 Juni 2019.